DWP KPU TULUNGAGUNG SERAHKAN CINDERAMATA KERAJINAN TANGAN KRUSTIEK “BERLOGO KPU”

[responsivevoice_button voice="Indonesian Female" buttontext="Dengarkan"]
Eti Rohmawati saat menyerahkan kerajinan kruistiek buatannya (27/2)

Eti Rohmawati saat menyerahkan kerajinan kruistiek buatannya (27/2)

Reporter : David Hartanto
Editor : Suyitno Arman

TULUNGAGUNG (kpu-tulungagungkab.go.id.) – Senin (27/2/2017) sedikit istimewa bagi keluarga besar KPU Tulungagung. Ketua Darma Wanita Persatuan (DWP) KPU Tulungagung secara khusus mendatangi kantor KPU Tulungagung menyerahkan bingkisan kepada KPU, buah karya seni buatan sendiri berupa KRUISTIEK berlogo KPU. Kruistiek adalah kerajinan tangan menyulam dari benang atau lebih dikenal dengan strimin.

Menurut Eti Rohmawati, Ketua Darma Wanita KPU Tulungagung, membuat kerajinan kruistiek memerlukan ketelitian, konsistensi, dan kesabaran. Makna fislosofis inilah yang ingin beliau pesankan kepada keluarga besar KPU Tulungagung dalam menjalankan setiap tugas negara. Tanggungjawab menyelenggarakan pemilu adalah tugas berat, namun dengan ketelitian, konsistensi dan kesabaran, diyakini tugas itu akan mampu dikerjakan secara baik.

“Proses pembuatan kruistiek logo KPU dengan ukuran 60 cm x 60cm ini membutuhkan waktu selama 2 minggu, dengan tingkat kesulitan di gambar garuda dan perisai yang ada 5 lambangnya. Ini sangat memerlukan ketelitian, konsistensi dan kesabaran dalam menyulamnya supaya mirip dengan aslinya. Begitulah kira-kira komisioner dan seluruh pegawai KPU harus bersikap”, tutur isteri Ketua KPU Tulungagung Suprihno.

Beliau menjelaskan, bahan–bahan yang dibutuhkan untuk membuat kruistiek diantaranya kain strimin, benang, jarum khusus strimin, dan sketsa gambar yang diinginkan, dalam hal ini logo KPU. Eti Rohmawati berharap logo KPU karya DWP ini kelak bisa dipasang di kantor KPU dan sekaligus sebagai kenang-kenangan.

Dikutip dari berbagai sumber, kruistiek atau strimin adalah seni yang telah lama dikenal oleh manusia peninggalan arkheologi di Mesir kuno. Jenis kerajinan tangan ini telah dikembangkan sekitar dua ribuan tahun yang lalu. Namun kini di Indonesia, kerajinan tangan ini sudah mulai jarang ditemukan. Padahal pada tahun 1958 di Sumatera Utara, kruistiek merupakan produk kerajinan yang memiliki gengsi dan status sosial yang tinggi. Bahkan sempat menjadi tren house ware saat itu. (VID/ARM)

You may also like...

     
+100%-